Diabetes kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus diabetes pada anak muda dan remaja terus meningkat dan menjadi perhatian serius di dunia kesehatan. Gaya hidup modern, pola makan tinggi gula, hingga kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor utama yang memicu meningkatnya risiko diabetes di usia muda.
Fenomena ini cukup mengkhawatirkan karena banyak anak muda yang tidak menyadari bahwa kebiasaan sehari-hari dapat memicu gangguan gula darah sejak dini. Konsumsi minuman manis, makanan cepat saji, begadang, hingga terlalu lama duduk di depan layar menjadi bagian dari pola hidup yang semakin umum saat ini.
Menurut para ahli kesehatan, diabetes tipe 2 pada usia muda sangat berkaitan dengan perubahan gaya hidup. Konsumsi gula berlebihan dan minimnya aktivitas fisik menyebabkan tubuh mengalami resistensi insulin, yaitu kondisi ketika hormon insulin tidak bekerja secara optimal untuk mengontrol gula darah.
Minuman kekinian seperti boba, kopi susu, soda, hingga minuman kemasan mengandung kadar gula yang tinggi. Jika dikonsumsi terus-menerus tanpa kontrol, kadar gula darah dapat meningkat secara signifikan. Penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis kemasan berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes pada usia muda.
Banyak anak muda menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, bermain gadget, atau duduk terlalu lama tanpa olahraga. Gaya hidup sedentari ini membuat pembakaran kalori menurun dan memicu obesitas, salah satu faktor risiko utama diabetes.
Kelebihan berat badan membuat tubuh lebih sulit menggunakan insulin dengan baik. Bahkan, data kesehatan menunjukkan obesitas pada usia muda berkaitan erat dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.
Riwayat keluarga juga berpengaruh. Anak muda yang memiliki orang tua atau keluarga dengan diabetes memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit serupa.
Banyak kasus diabetes terlambat disadari karena gejalanya dianggap sepele. Berikut beberapa tanda awal diabetes yang sering muncul:
Data dari BPJS Kesehatan mencatat jumlah kunjungan pasien DM dan hipertensi usia muda ke FKTP terus meningkat sejak 2021 hingga 2025. Fenomena ini juga diakui oleh para praktisi kesehatan di lapangan.
Pemilik Klinik Sehat Setia Brebes, Munaryo, menyebut bahwa belasan tahun lalu hampir tidak ada pasien prolanis di bawah usia 40 tahun. Namun, dalam lima tahun terakhir situasi berbalik karena pasien usia muda justru mendominasi.
"Sekarang semakin banyak pasien di bawah 40 tahun. Bahkan ada pasien hipertensi dan diabetes melitus yang usianya belum 30 tahun," kata Munaryo.
Baca Juga: Menormalkan Diabetes Menggunakan Dandang Gendis, Benarkah Efektif
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihai Pujowaskito, menyatakan keprihatinan mendalam atas tren kenaikan kasus penyakit kronis pada kelompok usia muda ini. Penyakit katastropik menyerap anggaran yang sangat besar.
Sepanjang periode 2014 hingga 2025, total pembiayaan BPJS Kesehatan untuk layanan DM dan hipertensi mencapai Rp 151,4 triliun. Angka fantastis tersebut bahkan belum termasuk biaya penanganan penyakit komplikasi sekunder.
Sebagai contoh, pada tahun 2025 BPJS Kesehatan harus menggelontorkan Rp 17,3 triliun untuk penyakit jantung. Di samping itu, penanganan kasus stroke juga menelan biaya hingga Rp 7,2 triliun.
"Penyakit katastropis menyerap sekitar 25 persen pembiayaan JKN," jelas Pujo yang juga merupakan dokter spesialis jantung.
Pujo menekankan pentingnya deteksi dini, pemeriksaan rutin, serta penerapan pola hidup sehat demi menjaga keberlanjutan pembiayaan kesehatan.
Sumber : pontianakpost